Nanank Haris S
Individu yang pendiam dan introspektif yang menemukan penghiburan di kedalaman sintaxdan mencoba menemukan kedamaian di tengah kekacauan. Meskipun bergulat dengan ADHD, cintanya kepada keluarganya tetap tak tergoyahkan, yang menopangnya di tengah badai kehidupan. Dalam pelukan pikirannya yang tenang, ia merajut algoritma yang rumit, mengubah perjuangannya menjadi kemenangan dan kesendiriannya menjadi tempat perlindungan.

PSS Sleman dan East Tokyo United

BuletinesiaBeberapa waktu yang lalu saat publik sepakbola sedang dihebohkan dengan gelaran Bali Island Cup, PSS Sleman menjadi salah satu pusat perhatian. Bukan karena kemenangan besar apalagi menjadi juara, tapi karena suporter. Suporter PSS Sleman berhasil memukau penonton pertandingan baik yang menyaksikan secara langsung maupun melalui layar kaca, dengan Chants yang tidak biasa ala eropa. Lebih menariknya lagi chans ala Sleman Fans ini tetap berkumandang walaupun posisi klub yang mereka dukung sedang tertinggal. Euforia Sleman Fans ini mengingatkan saya pada salah satu Manga Sepakbola favorit saya yaitu “Giant Killing”. Manga “Giant Killing” menceritakan tentang sebuah tim kecil di kota Tokyo Jepang yaitu ETU atau East Tokyo United. Ada banyak persamaan antara klub ETU dengan PSS sleman. Apa sajakah itu? Silahkan disimak.

PSS Sleman dan East Tokyo United

PSS Sleman

ETU adalah sebuah klub kecil yang bisa menjadi klub paling powerfull di J-League pada tahun 90an dengan Takeshi Tatsumi sebagai bintang lapangan. Setelah ditinggal Takeshi Tatsumi, ETU mengalami kesulitan dalam mengarungi J-League, bahkan sempat degradasi. Hampir mirip dengan PSS Sleman, PSS Sleman adalah klub di Kabupaten Sleman yang sempat berjaya di era Seto Nurdiyantoro dengan menduduki peringkat 4 di Divisi Utama Liga Indonesia (saat itu belum ada ISL). Setelah era Seto Nurdiyantoro PSS Sleman mengalami kesulitan dalam mengarungi Liga Indonesia baik dari segi keuangan maupun prestasi.

Giant Killing

Seto Nurdiyantoro & Takeshi Tatsumi

Coach Seto Nurdiyantoro

Takeshi Tatsumi kembali ke ETU dan berhasil membuat perubahan besar di ETU, begitu juga dengan Seto Nurdiyantoro yang kembali lagi ke PSS Sleman dan berhasil melakukan banyak perubahan dalam tim. Kedua sosok ini kembali ke Klubnya masing-masing tidak sebagai pemain lagi melainkan sebagai Pelatih. Sebelum menjadi pelatih, kedua sosok ini berposisi menjadi pemain tengah. Baik Seto maupun Tatsumi mempunyai kesamaan dalam melatih tim, yaitu memaksimalkan potensi lokal, dan itu tebukti ketika ETU berhasil menahan imbang juara bertahan Tokyo Victory maupun PSS Sleman yang berhasil mengalahkan tim satu kasta diatasnta yaitu Persela Lamongan. Kedua Laga tersebut baik ETU dalam manga “Giant Killing” maupun PSS Sleman di kehidupan nyata merupakan laga ujicoba. Kedua pelatih ini memiliki potensi untuk memainkan “Giant Killing”, dimana klub kecil yang diremehkan berhasil menumbangkan klub unggulan.

Takeshi Tatsumi

Anang Hadi dan Murakoshi

Anang Hadi

Kalau Murakoshi menjadi MR ETU di “Giant Killing” maka Anang Hadi akan menjadi MR Sleman. Kedua pemain ini adalah pemain yang loyal kepada klub, berposisi sebagai Gelandang serang dan sama-sama memakai ban Kapten. disaat tim sedang kesulitan keuangan maupun kesulitan prestasi, mereka tetap setia kepada klub yang membesarkan namanya yaitu ETU dan PSS Sleman. Hal yang pantas bila Murakoshi mendapat julukan MR ETU dan tidak berlebihan juga bila suatu saat nanti Anang Hadi akan mendapat julukan MR Sleman.

Murakoshi

Skulls & Brigata Curva Sud maupun Slemania

Skulls

ETU memiliki suporter yang sangat fanatik yaitu Skulls, tidak jauh berbeda dengan PSS Sleman yang mempunyai suporter fanatik yaitu Brigata Curva Sud dan Slemania. Suporter ETU maupun PSS selalu mendukung klubnya walaupun posisinya tertinggal.

Brigata Curva Sud

Begitu juga saat bertandang ke kandang lawan mereka selalu setia mendukung tim kebanggaan mereka. Tak jarang dalam salah satu scene manga “Giant Killing” tampak semua toko di daerah East Tokyo tutup lebih awal ketika ETU bermain di kandang, Begitu juga dengan PSS Sleman, bahkan saya pernah mendapati seorang pedagang angkringan memasang spanduk besar di gerobak angkringgannya “Angkringan tutup, bakule nonton PSS Sleman” (angkringan tutup, penjual nonton PSS Sleman)
Mungkin itu saja persamaan antara ETU dengan PSS Sleman, kedua klub ini masih mempunyai cerita yang panjang, akankah cerita dalam manga “Giant Killing” menjadi kenyataan untuk PSS Sleman? Saya pribadi sebagai Sleman Fans berharap iya.

Caution : Tulisan ini murni saya COPY PASTE dari Buletinesia.com

Share

You may also like...

1 Response

  1. Ada update satu lagi mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *