Sepak Bola dan Chemistry

Sepakbola dan Chemistry

Sepak bola adalah cabang olah raga yang paling poluler di seantero jagat raya. Kenapa populer? Dibelahan penjuru dunia manapun pasti akan tahu apa itu sepak bola. Tak peduli itu besar kecil tua maupun muda. Semua pasti tahu dan memiliki cara tersendiri dalam menikmatinya.

Disamping simple, sepakbola tidak membutuhkan biaya banyak. Tinggal butuh bola dan beberapa orang, bola sudah bisa disepak dan dijadikan rebutan. Gawang tak perlu pakai tiang, cukup pake sendal ataupun batu (mode anak-anak jaman dulu) sudah bisa dibobol.  Dulu sewaktu saya kecil, sepak bola adalah hal yang wajib ketika angon wedhuz disawah. Sembari bermain layang-layang dan menunggu si kambing metumput,cukup  bersama 3 atau 4 orang jalanan sawah sudah jadi ajang bermain bola. Terkadang terhenti kalau ada pengendara sepeda lewat atau si kambing terlampau jauh mengisi perutnya. Kalau lagi beruntung, ada sawah kosong sehabis panen yang agak kering dan berumput jadi lebih empuk untuk bersleding ria atau gulung-gulung saat permaiinan berlangsung.

Lalu apa hubungannya dengan Chemistry?

Pernahkah kamu bermain sepakbola dilapangan sepak bola tanpa kita kenal dengan  orang-orang yang satu tim dengan kita? Saya pernah, dan itu berlangsung sudah beberapa minggu lalu. Trus apa yang terjadi? Sepak bola disamping butuh skill fisik dimasing-masing individu. Juga butuh yang namanya chemistry pada satu tim. Kenapa chemistry? Yup, kita butuh kedekatan batin unutk bisa bermain enjoy dan penuh semangat. Salah satu contohnya adalah ketika kite perlu seseorang untuk bisa pressing terhadap lawan. Jika kita tak punya kedekatan batin, maka akan terasa sungkan untuk memerintah si doi buat melakukkan pressing lawan. Disamping itu pengetahuan terhadap karateristik kawan juga sangat diperlukan, si A tipe bagaimana si B bagaimana tentunya kita sedikit harus punya track recordnya. Ini sangat diperlukan unutk proses komunikasi ketika bermain.

Saya pribadi pernah ikut dalam ajang Anastesi FC yang berlangsung bulan september 2017 kemarin. Saya benar-benar merasa setiap pertandingan yang saya lalui itu serasa blank. Bahkan saya sendiri tak tau harus bagaimana dan berbuat apa dengan pertandingan yang seperti itu. Meski cuma sebagai penjaga gawang, namun tetep saja pola permainan yang sedang berlangsung terasa begitu asing dan seolah-olah itu bukan seperti dalam pertandingan resmi. Pola permainan yang nggak jelas  dan seolah monoton. Umpan-umpan yang tidak terarah dan sering salah sasaran. Ditambah tanpa adanya sikap “ngotot” untuk mempertahankan maupun merebut bola. Seolah-olah permainan menjadi hambar dan tidak sedap untuk dinikmati. Tidak ada greget dan uforia.  Saya akui saya memang tidak pernah ikut dalam porsi latihan mereka, mungkin itu yang menjadi alasan utama saya belum bisa merge dengan mereka.

Entah hal itu saya sendiri yang merasakan atau kah pemain lain juga merasakan hal yang sama. Namun pertandingan demi pertandingan waktu itu serasa aneh bagi saya. Dalam opini saya, mungkin itu yang disebut tidak adanya chemistry dalam sepak bola. Tidak adanya kerjasama yang solid dan terarah, aliran bola sulit dan peluang tidak pernah ada. Akhirnya dalam 3 pertandingan itu tim hanya memperoleh poin 1. Ya, sekali imbang dan lainya kalah.

Dalam sebuah permainan memang harus ada yang kalah dan menang, begitu juga dengan sepak bola. Namun menang dan memperoleh merupakan target utama. Jika tak mau menang kenapa harus bertanding? Permainan bagus memang tidak menjamin mendapatkan kemenangan. Namun ketika sebuah tim mampu bermain bagus, solid serta memeprolah kemenangan, itu merupakan sebuah nilai tersendiri dimata publik. Apalagi jika tanpa kebobolan, seperti sebuah tim yang sempurna. Namun bagaimana pun juga, peran dewi fortuna juga sangat berperan dalam permainan. Lihat saja klub sekelas Barcelona, sebagus-bagus mereka main tetap saja merasakan pahitnya kekalahan. Masih ingat semifnal Liga Champion antara Barcelona dengan Chelsea yang berakhir imbang 2-2 namun Barca waktu itu kalah agregat gol dari Chelse 2-3 yang akhirnya Chelsea lolos ke Final dan menjadi juara setelah mengalahkan Bayern Munchen melalui adu pinalti. Waktu itu Chelsea hanya dilatih oleh Roberto Dimateo si asisten pelatih.

Jika kamu seorang pemain bola(tak perlu profesional lah) kedekatan batin kepada seluruh pemain sangat dibutuhkan. Kita bisa tau karakter dari masing-masing pemain dari tim. Sering-seringlah berlatih bersama mereka, akrabi dan ajak bercanda supaya suasana cair. Sehingga ra sungkan akan hilang. Dan ketika kamu bermain dalam pertandingan resmi, kamu tidak akan sungkan untuk menyuruh atau mengoreksi diri mereka ketika mereka melakukan kesalahan atau pun sebaliknya.

Ini cuma opini saya belaka. Terlepas benar atau tidaknya saya jug atidak tahu. Setiap orang punya opini sendiri terhadap suatu masalah. Aleee!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*